SOLO, KOMPAS.com - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono meninjau pembangunan jalan layang atau fly over (FO) Manahan di Kota Solo, Jawa Tengah, Selasa (19/7/2018).

Basuki menuturkan, pengerjaan FO Manahan menggunakan teknologi corrugated mortarbusa pusjatan (CMP). CMP merupakan pengembangan teknologi timbunan ringan mortar busa dengan struktur baja bergelombang.

"Ini pakai teknologi CMP seperti FO Antapani Bandung, makanya bisa lebih cepat," ujar Basuki Hadimuljono kepada Kompas.com, di lokasi proyek FO Manahan, Solo, Kamis (19/7/2018).

FO Manahan dibangun oleh Kementerian PUPR bekerja sama dengan Pemerintah Kota Solo.

Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mengatakan, dia beserta jajarannya terus mengawasi pembangunan FO itu. "Setiap bulan kami monitor dalam rapat bersama muspida, progresnya sudah 45 persen," ujar FX Hadi Rudyatmo di lokasi yang sama.

Dia mengatakan, proyek itu akan diselesaikan pada awal Oktober sesuai kontrak yang disepakati.

Bahkan, menurut dia, FO Manahan bakal digunakan untuk lomba lari marathon pada tanggal 28 Oktober 2018.

Nantinya FO Manahan akan terbentang sepanjang 600 meter dengan sudut kemiringan 7 persen.

Basuki menambahkan, anggaran yang dikeluarkan untuk membangun FO tersebut senilai Rp 43 miliar.

Adapun kontraktor pembangunan FO Manahan ini yaitu PT Yasa Patria Perkasa dan PT Virama Karya, sedangkan konsultan proyeknya yakni PT Anugerah Kridapradana dan PT Disiplen Consult.

Keunggulan CMP Teknologi CMP kerap digunakan untuk pembangunan FO karena memiliki kelebihan, yaitu konstruksinya lebih cepat 50 persen dibanding konstruksi beton.

“Apabila menggunakan konstruksi beton butuh waktu 12 bulan, menggunakan teknologi CMP hanya memerlukan 6 bulan,” ujar Basuki dalam keterangan tertulis, Kamis (28/6/2018).

Bukan hanya lebih cepat dalam waktu pengerjaan, teknologi CMP juga lebih efisien untuk pembiayaan.

Sebab, konstruksi CMP tidak harus menutup jalur kendaraan sehingga dampaknya sangat kecil terhadap kemacetan di sekitar lokasi konstruksi.

Selain itu, CMP juga bernilai estetis sehingga lebih enak dipandang dan bisa menjadi landmark di kawasan tersebut.

Kelebihan lainnya, konstruksi CMP lebih ramah lingkungan karena konsumsi bahan alamnya jauh lebih sedikit daripada konstruksi dengan teknologi beton.

Keberadaannya diharapkan mampu mengurangi kemacetan akibat perlintasan sebidang rel kereta Solo-Yogyakarta serta memperlancar arus kendaraan dari Jalan Adi Sucipto dan Jalan MT Haryono ke arah Jalan Dr Moewardi dan sebaliknya.